Pasaman Timur, Sumatera Barat | Khabarterkini.co –
Peristiwa keji yang menggemparkan publik terjadi di Kecamatan Rao, Pasaman Timur. Seorang nenek berusia 67 tahun bernama Saudah menjadi korban penganiayaan brutal setelah menolak aktivitas tambang emas ilegal yang beroperasi di lahan miliknya sendiri. Korban dipukuli hingga tak berdaya, dikira tewas, lalu dibuang ke semak-semak di tepi sungai.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Kamis malam, 1 Januari 2026. Berdasarkan informasi yang beredar dan dilansir dari unggahan Facebook Andi Amran Jaguar, Nenek Saudah awalnya mendatangi para penambang dan meminta mereka menghentikan aktivitas penggalian emas ilegal di tanahnya. Permintaan tersebut sempat diindahkan dan aktivitas tambang berhenti sementara.
Namun, situasi berubah setelah waktu Magrib. Para penambang kembali masuk ke lahan tersebut dan melanjutkan aktivitasnya. Merasa haknya kembali dirampas, Nenek Saudah nekat berjalan seorang diri menuju lokasi tambang yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya, hanya berbekal sebuah senter.
Di tengah perjalanan, korban diduga disergap. Ia dilempari batu, kemudian dipukuli secara brutal hingga terjatuh dan tak berdaya. Dalam kondisi setengah sadar, Nenek Saudah sempat mendengar pelaku menyebut dirinya telah meninggal dunia.
Tak berhenti di situ, tubuh korban kemudian dibuang ke semak-semak di tepi sungai sekitar pukul 22.00 WIB, seolah-olah untuk menghilangkan jejak kejahatan.
Namun, keajaiban terjadi. Sekitar pukul 01.00 WIB, Nenek Saudah tersadar. Dengan sisa tenaga, ia berusaha pulang ke rumah dalam kondisi tubuh penuh luka dan tertatih-tatih. Setibanya di depan rumah, korban kembali pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit oleh warga.
Saat ini, Nenek Saudah menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping. Kondisinya dilaporkan mengalami lebam parah di wajah, nyeri hebat di sekujur tubuh, serta pusing akibat benturan keras di kepala.
Pihak kepolisian membenarkan kejadian tersebut. Aparat menyatakan identitas pelaku telah dikantongi dan saat ini sedang dalam pengejaran. Polisi juga berjanji akan mengusut tuntas kasus ini, termasuk aktivitas tambang emas ilegal yang menjadi pemicu utama kekerasan.
Kasus ini memantik kemarahan publik. Demi emas ilegal, nilai kemanusiaan seolah lenyap. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas, tidak hanya menangkap pelaku penganiayaan, tetapi juga memberantas tambang emas ilegal yang telah meresahkan dan memakan korban.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa konflik agraria dan tambang ilegal masih menyisakan ancaman serius, bahkan bagi warga paling rentan. Publik kini menanti keadilan bagi Nenek Saudah.
(R;L*)















