PASAMAN BARAT | Khabarterkini.co – Tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Pasaman Barat. Khairuddin (64), warga Sungai Aur yang menjadi korban terkaman buaya, meninggal dunia pada Selasa (24/2/2026) malam setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Pasaman Barat.
Kematian korban kini memicu sorotan tajam dari legislatif. Dua anggota DPRD Pasaman Barat, Sulaiman dan Rommy Chandra, turun langsung ke rumah sakit untuk meninjau kondisi korban sebelum mengembuskan napas terakhir.
Dugaan Kelalaian Medis dan Hambatan Administrasi
Kehadiran kedua wakil rakyat tersebut merupakan respons atas laporan keluarga yang mengungkap dugaan prosedur medis tidak standar dan hambatan birokrasi dalam proses rujukan pasien.
Menurut keterangan keluarga, korban sempat diperbolehkan pulang dari puskesmas meski mengalami luka robek serius akibat gigitan buaya. Bahkan, korban diduga tidak mendapatkan suntikan anti-tetanus, yang seharusnya menjadi tindakan wajib dalam kasus luka terbuka akibat serangan hewan liar.
“Ini harus menjadi evaluasi total. Mulai dari penanganan awal di puskesmas yang diduga tidak sesuai standar, hingga carut-marut status BPJS yang sempat menghambat proses rujukan. Instansi terkait harus bertanggung jawab agar peristiwa serupa tidak terulang,” tegas Sulaiman kepada awak media.
Senada dengan itu, Rommy Chandra menekankan pentingnya respons cepat dalam situasi darurat medis tanpa terhambat urusan administratif.
“Dalam kondisi antara hidup dan mati, jangan sampai persoalan administrasi menghambat tindakan penyelamatan. Sistem harus berpihak pada keselamatan nyawa manusia,” ujarnya.
Kronologi Mencekam di Sungai Aur
Peristiwa tragis ini bermula pada Minggu (22/2/2026), saat korban menjaring ikan di kawasan Lubuak Pancakauan, Sungai Aur. Seekor buaya tiba-tiba menerkam dan menggigit betis kiri korban hingga mengalami luka robek serius.
Korban sempat mendapatkan sekitar 60 jahitan di Puskesmas Sungai Aur. Namun, kondisi kesehatannya menurun drastis pada Senin malam. Keluarga kemudian berupaya merujuk korban ke RSUD Pasaman Barat.
Di tengah kepanikan tersebut, keluarga mengaku sempat terkendala status BPJS yang menunggak. Meski keluarga bersedia melunasi tunggakan, proses entri data administrasi di puskesmas disebut menghambat keberangkatan. Korban akhirnya baru dapat masuk ruang ICU sekitar pukul 23.00 WIB.
Nyawa Khairuddin tak tertolong.
Tuntutan Evaluasi dan Peringatan Bahaya Buaya
Kematian Khairuddin meninggalkan duka mendalam bagi warga Sungai Aur. Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pelayanan medis, khususnya untuk kasus darurat akibat serangan satwa liar.
Selain itu, DPRD juga meminta adanya pembenahan sistem birokrasi kesehatan agar lebih responsif dalam kondisi genting, serta pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan konflik manusia dan buaya di sepanjang aliran sungai.
Jenazah almarhum telah dibawa ke rumah duka di Sungai Aur menggunakan ambulans RSUD Pasaman Barat pada Selasa malam pukul 21.30 WIB untuk dimakamkan.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pelayanan kesehatan dan sistem tanggap darurat di Pasaman Barat—bahwa di tengah ancaman alam yang nyata, kelambanan prosedur tidak boleh lagi merenggut nyawa warga.
(Pena Keumatan).
Editor: (Rul*).















