Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 300x600
Jawa Timur

Rehabilitasi Atap SMPN 1 Sapeken Rp: 800 Juta Disorot: Beton Lama Dipakai, Dugaan Lobi hingga Pencatutan Nama ICW Mencuat

28
×

Rehabilitasi Atap SMPN 1 Sapeken Rp: 800 Juta Disorot: Beton Lama Dipakai, Dugaan Lobi hingga Pencatutan Nama ICW Mencuat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SUMENEP | Khabarterkini.co – Proyek rehabilitasi bumbung atau atap gedung SMPN 1 Sapeken, Kabupaten Sumenep, dengan nilai anggaran lebih dari Rp:800 juta menuai sorotan publik. Proyek yang semestinya menghasilkan konstruksi sesuai perencanaan dan spesifikasi teknis itu dipertanyakan setelah muncul dugaan bahwa bagian struktur beton lama masih digunakan dalam pekerjaan rehabilitasi.

Temuan tersebut memicu desakan dari kalangan aktivis dan insan pers agar pelaksanaan proyek diperiksa secara menyeluruh. Persoalan semakin menjadi perhatian setelah proses konfirmasi kepada pihak sekolah disebut-sebut diwarnai pernyataan yang diduga mengarah pada upaya pendekatan personal serta penyebutan nama organisasi antikorupsi.

Advertisement
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Sorotan bermula ketika aktivis senior Daeng Sultan menghubungi Kepala SMPN 1 Sapeken, Subairi, untuk meminta penjelasan mengenai pelaksanaan dan transparansi penggunaan anggaran rehabilitasi yang nilainya mencapai lebih dari Rp:800 juta.

Dalam percakapan yang berlangsung melalui sambungan telepon dan diaktifkan menggunakan pengeras suara, aktivis lain yang turut mendampingi, Juhari, mengaku mendengar pernyataan yang dinilai janggal.

Menurut Juhari, alih-alih memberikan penjelasan mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB), spesifikasi teknis, dan progres pekerjaan, Subairi diduga meminta nomor rekening Daeng Sultan dengan alasan untuk “beli-beli rokok” dan membicarakan persoalan tersebut secara lebih santai.

“Saya minta nomor rekening sampean ya untuk buat beli-beli rokok lah, Pak Daeng. Biar enak kalau seperti ini, Pak Daeng, rembuk-rembuk,” ujar Subairi sebagaimana ditirukan kembali oleh Juhari.

Pernyataan tersebut kini menjadi salah satu poin yang dipersoalkan aktivis. Mereka meminta agar konteks sebenarnya dari permintaan nomor rekening tersebut diklarifikasi secara terbuka sehingga tidak menimbulkan persepsi adanya upaya memengaruhi proses pengawasan.

Nama ICW Ikut Disebut
Persoalan tidak berhenti pada dugaan permintaan nomor rekening. Dalam percakapan yang sama, Subairi disebut sempat menyinggung nama Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengaitkan dirinya dengan seseorang bernama Sajali.

Penyebutan nama lembaga antikorupsi tersebut turut memunculkan pertanyaan. Apakah nama ICW benar-benar berkaitan dengan persoalan proyek tersebut atau hanya disebut dalam konteks percakapan untuk merespons tekanan dari pihak yang melakukan konfirmasi, masih perlu dibuktikan melalui klarifikasi dari pihak-pihak terkait.

Karena itu, informasi tersebut tidak semestinya langsung ditafsirkan sebagai bukti adanya keterlibatan pihak tertentu tanpa pemeriksaan dan verifikasi lebih lanjut.

Beton Lama Jadi Titik Sorotan
Dari sisi pekerjaan fisik, penggunaan struktur beton lama dalam proyek rehabilitasi menjadi persoalan utama yang perlu diverifikasi.

Jika dalam dokumen perencanaan terdapat spesifikasi pekerjaan baru, sementara realisasi di lapangan ternyata menggunakan struktur lama tanpa dasar teknis yang sah, terdapat pertanyaan serius mengenai kesesuaian antara dokumen perencanaan, pembayaran pekerjaan, dan kondisi fisik bangunan.

Namun, untuk memastikan ada atau tidaknya penyimpangan anggaran, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen kontrak, RAB, gambar teknis, volume pekerjaan, spesifikasi material, berita acara pekerjaan, hingga hasil pemeriksaan fisik bangunan.

Dengan ada nya penemuan ini aktivis Johari menyatakan; Bagaimana tanggapan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep menyikapi terkait dugaan akal-akalan anggaran ini?…

(tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *