Khabarterkini.co – Penerapan sistem Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak berbasis e-voting untuk pertama kalinya di Kabupaten Pasaman Barat memicu beragam respons dari berbagai lapisan masyarakat.
Sebagai sebuah inovasi digital perdana dalam pesta demokrasi tingkat nagari, kebijakan ini mengundang antusiasme sekaligus tanda tanya besar dari warga, mulai dari generasi muda, kaum milenial, hingga para orang tua.
Bagi anak-anak muda dan pemilih pemula, sistem e-voting dipandang sebagai angin segar yang membawa pembaruan. Mereka merasa metode digital ini sangat keren, modern, dan relevan dengan perkembangan zaman. Anak-anak muda, yang akrab dengan gawai dan teknologi, merasa tertantang dan antusias untuk berpartisipasi karena proses memilih dirasa lebih cepat, praktis, dan tidak memakan waktu lama di bilik suara.
Mereka juga menilai langkah ini menunjukkan bahwa nagari di Pasaman Barat tidak tertinggal secara teknologi dan siap beradaptasi dengan era digital. Kehadiran teknologi ini juga menumbuhkan rasa bangga tersendiri, karena tradisi pemilihan pemimpin lokal kini sejajar dengan kemajuan sistem digital di kota-kota besar.
Kelompok milenial, yang umumnya berada di usia produktif dan aktif secara sosial, melihat e-voting dari sudut pandang efisiensi dan transparansi. Bagi mereka, sistem elektronik berpotensi meminimalisir kecurangan konvensional seperti manipulasi surat suara, hilangnya suara, atau kesalahan hitung manual yang kerap memicu sengketa.
Kendati demikian, kaum milenial juga dikenal lebih kritis. Mereka menyimpan kekhawatiran seputar keandalan infrastruktur pendukung, seperti potensi gangguan jaringan internet yang tidak stabil, kendala listrik padam di pelosok nagari, hingga pentingnya transparansi sistem keamanan data atau server agar hasilnya benar-benar valid, rahasia, dan tepercaya tanpa celah peretasan.
Sementara itu, respons dari para orang tua dan generasi senior cenderung lebih beragam dan dipenuhi perasaan cemas-cemas gemar. Di satu sisi, mereka merasa bangga nagari mereka bisa melaksanakan pemilihan yang canggih dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, di sisi lain, banyak orang tua yang merasa asing dan gagap teknologi (gaptek).
Muncul kekhawatiran besar di kalangan lansia mengenai cara mengoperasikan perangkat layar sentuh atau bilik suara digital tersebut. Mereka takut salah menekan tombol, keliru memilih calon pilihan hatinya, atau bahkan merasa canggung dan malu karena tidak terbiasa berinteraksi dengan perangkat elektronik canggih.
Hal ini membuat peran panitia dan petugas sosialisasi sangat diandalkan untuk memberikan pendampingan yang sabar dan ramah bagi para orang tua di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Di luar respons psikologis dari berbagai kelompok masyarakat, pelaksanaan Pilwana e-voting di Pasaman Barat juga menguji kesiapan infrastruktur daerah. Wilayah nagari yang geografisnya cukup luas dan beragam, mulai dari daerah pesisir hingga perbukitan, memerlukan jaminan pasokan listrik dan jaringan telekomunikasi yang prima.
Pemerintah daerah dan panitia pemilihan harus memastikan adanya genset cadangan di setiap TPS rawan padam serta pelatihan teknis yang mendalam bagi operator perangkat agar kendala teknis sekecil apa pun dapat segera diatasi dalam hitungan menit tanpa mengganggu jalannya pemungutan suara.
Secara keseluruhan, pelaksanaan e-voting perdana di Pasaman Barat ini menjadi sebuah lompatan besar yang membutuhkan sinergi kuat dari semua pihak. Dukungan penuh serta optimisme dari kaum muda dan milenial harus diimbangi dengan edukasi masif dan pendampingan intensif bagi orang tua serta generasi senior.
Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, panitia, dan masyarakat, inovasi digital ini diharapkan tidak hanya sukses mencatatkan sejarah baru dalam efisiensi pemilu tingkat nagari, tetapi juga mampu merangkul seluruh warga tanpa ada satu pun suara yang tertinggal akibat hambatan teknologi.
(Pena Keumatan)















