Redaksi | Khabarterkini.co
Di sebuah kota yang sibuk dan gemerlap, orang-orang terbiasa menilai satu sama lain dari apa yang tampak di luar. Mereka yang berpakaian rapi, mengenakan jas mahal dan sepatu mengilap, akan disambut dengan senyuman, dihormati, bahkan dipuja. Sementara itu, mereka yang mengenakan baju lusuh dan sepatu usang sering kali hanya dipandang sebelah mata.
Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk pasar kota, datanglah seorang pria tua dengan pakaian kusam dan wajah letih. Ia berjalan perlahan, sesekali menunduk memungut sampah atau botol kosong. Orang-orang menatapnya dengan jijik, bahkan ada yang menghindar agar tidak bersentuhan dengannya.
Tak jauh dari sana, seorang pria muda berbaju jas mahal melintas. Langkahnya tegap, wajahnya percaya diri, dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Orang-orang menyapanya ramah, membuka jalan, bahkan ada yang memintanya berfoto bersama.
Namun tak ada yang tahu, pria tua berbaju lusuh itu dulunya seorang guru yang telah mendidik ratusan anak bangsa hingga menjadi orang sukses. Sementara si pemuda berjas hanyalah seorang pewaris kekayaan yang tak pernah berjuang sendiri. Penampilannya rapi, tapi kata-katanya sering merendahkan.
Kisah ini menjadi pelajaran bagi banyak orang di kota itu.
Karena dari kejadian itu, mereka sadar bahwa penampilan bukanlah ukuran dari harga diri atau martabat seseorang. Tak selamanya orang yang berpakaian mewah lebih baik dari yang sederhana. Dan tak selamanya yang terlihat lusuh itu tak punya arti.
Kita harus belajar melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata. Jangan biarkan pikiran sempit dan dangkal membatasi cara kita menilai orang lain. Karena sejatinya, nilai seseorang bukan terletak pada baju yang ia kenakan, tapi pada hati, tindakan, dan pikirannya.
Penulis artikel: Rul Hrp
Tentang Artikel: Baju Lusuh dan Jas Rapi: Sebuah Pelajaran tentang Pandangan















