TTS- (NTT) | Khabarterkini.id
Keluarga besar Banunaek (Neno) akhirnya menolak rencana digelarnya pra kegiatan “Amanatun Nkol Koil” menuju Festival budaya Timor Sedunia.
Acara yang harusnya terjadi pada tanggal 20 – 23 April 2022 di Tun Am, Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) tersebut, ditolak karena tempat digelarnya “Am Amanatun Nkol – Koil, dianggap sakral.
Hal ini dibenarkan perwakilan keluarga besar Banunaek (Neno), Dony Y.Y.K. Banunaek, bahwa alasan penolakan ini, didasari pada kesakralan tempat digelarnya “Am anatun Nkol – Koil” yang dianggap sebagai Lokasi Privat yang tidak boleh dilakukan aktifitas apapaun dilokasi tersebut tanpa seijin mereka.
Bukti penolakan keluarga besar Banunaek (Neno) ini, ditandai dengan pemasangan tanda larangan, melalui aksi pajangan Baliho serta larangan penolakan kepada panitia dari LPA Amanatun dan BAMUSWARI NTT, melalui surat tanpa Nomor yang yang ditanda tangani oleh Dony Y.Y.B Banunaek pada 15 April 2022.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Panitia Sius Otu, menyambut baik aksi dan pernyataan sikap Keluarga Besar Banunaek (Neno) melalui sejumlah media dan surat yang disampaikan kepada panitia sejak beberapa waktu lalu.
Sius menerangkan, rencana kegiatan Festival Budaya Timor Sedunia ini murni pertunjukan seni budaya yang akan dipentaskan dari semua noe yang ada diwilayah Amanatun yang dihadiri tamu dalam negeri maupun sejumlah Negara.
“Festival ini menampilkan sanggar-sanggar budaya sedaratan Timor sebagai peserta untuk mengisi acara tersebut, seperti Bonet, gong, telsain, likulain, dan sejenis lainnya, serta lagu-lagu daerah, “ungkap Sius”
Selain itu lanjut Sius, kegiatan ini akan memberi dampak positif bagi ekonomi masyarakat mulai dari warung, jasa transportasi, restoran, homestay, hotel, sampai UMKM produsen, dan sebagai ajang untuk mempromosikan Pariwisata yang ada.
Informasi yang diterima media ini menyebutkan, terkait kegiatan ini,
panitia telah melakukan audiensi dengan sejumlah Forkopimda Prov.NTT dan Kabupaten TTS dengan tujuan agar melibatkan semuanya dalam konsep persiapan tersebut.
Sesuai hasil audiensi Panitia bersama Gubernur NTT,
,Victor Bungtilu Laiskodat, bersama sejumlah SKP, terkait Pelaksanan kegiatan ini, yang awalnya direncanakan dikota Kupang, namun dalam hasil Audiensi Gubernur
NTT, meminta agar kegiatan tersebut dilakukan di Swapraja Amanatun (Tun Am) yang berlokasi di Kecamatan Boking.
Menurut Viktor Laiskodat, ,
Amanatun dipandang memiliki kapasitas untuk digelarnya acara ini, sampai puncak kegiatan Festival Budaya Timor Sedunia tersebut, yang perlu melibatkan seluruh pemangku adat se-wilayah NTT.
“Saya minta acara ini didesain secara baik, dan kepada Panitia agar persiapkan rumah – rumah warga yang ada dikecamatan Nunkolo dan Boking sebagai lokasi penginapan dengan menyediakan makan lokal bagi para tamu undangan yang datang baik dalam Negeri maupun luar Negeri, dengan membayar sesuai tarif yang ditetapkan besama”, pinta Victor.
Permintaan Gubernur NTT tersebut, telah ditindak lanjuti oleh Panitia dan disampaikan kepada Pemda Kab.TTS, Bupati dan Wakil Bupati Tahun-Konay bersama DPRD serta elemen terkait lainnya sebagai tuan rumah dalam kegiatan tersebut.
Selain dukungan pemerintah, rencana kegiatan tersebut, juga mendapat respon positif dan dukungan dari Rektor IAKN Kupang, Dr.Harun Y. Natonis, M.Si.
Sebagai salah satu putra daerah, Harun menilai kegiatan ini sesungguhnya sangat memberi manfaat besar bagi masyarakat dari berbagai aspek. Maka
keluarga Banunaek mesti bangga kalau tempat atau istana mereka dipilih sebagai tempat kegiatan yang akan dihadiri dari berbagai elemen baik dalam maupun luar Negeri yang selama ini belum perna terjadi, “Ungkap Harun”.
“Saya sebagai putra Amanatun sangat bangga kalau Amanatun dipilih sebagai tempat untuk berlangsungnya Festival Budaya Timor Sedunia, yang pastinya pemilihan tempat itu tentu ada alasan historisnya. Mari kita bersatu membangun Kuan Amanatun”, tutup Harun.
(RA/NTT)
Editor:arhp.















