Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 300x600
Artikel Tentang Menulis

KETIKA MAUT MENEGUR SANG PENGUASA

1068
×

KETIKA MAUT MENEGUR SANG PENGUASA

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Redaksi khabarterkini.co 

Wahai penguasa, ingatlah, kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara. Tidak ada kekuasaan yang abadi, tidak ada jabatan yang kekal, dan tidak ada manusia yang mampu berkuasa selamanya. 28/10/2026.

Advertisement
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Janganlah engkau terlalu angkuh karena kekuasaan yang hari ini berada dalam genggamanmu. Sebab, ketika maut datang menjemput dan berdiri di hadapanmu, barulah engkau menyadari bahwa ada satu kekuasaan yang tidak dapat engkau lawan, satu keputusan yang tidak dapat engkau batalkan, dan satu panggilan yang tidak dapat engkau tolak.

Saat itulah engkau baru memahami arti penyesalan yang sesungguhnya.

Namun, sayang seribu kali sayang, ketika penyesalan itu datang, waktu tak lagi dapat diputar kembali. Jabatan yang dahulu engkau banggakan tak akan mampu menyelamatkanmu. Harta yang engkau kumpulkan tak akan mampu membeli tambahan usia. Dan kekuasaan yang dahulu membuat orang lain tunduk kepadamu tak akan mampu membuat maut berlutut di hadapanmu.

Wahai penguasa, sebelum waktu merenggut kesempatanmu, sebelum napas terhenti, dan sebelum penyesalan menjadi teman terakhirmu, bercerminlah pada dirimu sendiri. Gunakanlah sisa hidupmu untuk berbuat adil, menebar kebaikan, dan meninggalkan jejak yang pantas dikenang, bukan luka yang diwariskan kepada sesama.

Sebab, setinggi apa pun engkau berdiri hari ini, pada akhirnya engkau akan kembali menjadi manusia biasa di hadapan kematian.

Ingatlah, wahai penguasa: rakyat mungkin dapat engkau bungkam, kebenaran mungkin dapat engkau tutupi, dan keadilan mungkin dapat engkau tunda. Namun, maut tidak dapat engkau perintah untuk menunggu.

Jangan sampai ketika ajal tiba, barulah engkau menyadari bahwa selama ini engkau sibuk mempertahankan kekuasaan, tetapi lupa mempersiapkan pertanggungjawaban atas kehidupan.

Tulisan ini bukan sekadar sindiran bagi mereka yang berkuasa, melainkan juga cermin bagi setiap insan agar senantiasa mengoreksi diri sebelum waktu tak lagi memberikan kesempatan.

Penulis: Khoirul Harahap

*Sebagai bahan introspeksi kehidupan*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *