khabarterkini.co
Pesta demokrasi tingkat nagari atau Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) yang baru saja kita laksanakan telah usai. Keriuhan kampanye, dinamika adu gagasan, persaingan pendapat, hingga riak-riak perbedaan pilihan kini resmi menjadi bagian dari lembaran sejarah perjalanan demokrasi di nagari kita tercinta.
Dalam setiap gelaran kompetisi, keberadaan pihak yang menang dan belum beruntung adalah sunatullah yang tak terelakkan. Kemenangan dan kekalahan merupakan siklus biasa dalam politik. Namun, di atas semua angka kemenangan dan selebrasi politik itu, ada satu hal mulia yang nilainya jauh lebih berharga dari sekadar kursi kepemimpinan: persaudaraan, keutuhan, dan kedamaian nagari kita.
Perbedaan pandangan dan perbedaan pilihan politik yang terjadi beberapa waktu lalu adalah cerminan kedewasaan kita dalam berdemokrasi. Namun, jangan sampai benih perbedaan itu merusak tali silaturahmi yang telah kita bina bertahun-tahun atas dasar asas kekeluargaan dan persaudaraan.
Kini saatnya kita melangkah ke depan dan meneguhkan kembali komitmen kebersamaan jangan biarkan sekat politik kemarin menyisakan sekat sosial hari ini. Hindari benturan fisik, gesekan nada bicara, maupun pertikaian di media sosial. Saatnya meleburkan perbedaan dan meluruskan kembali barisan demi keharmonisan bersama.
Kompetisi telah berakhir; tidak perlu lagi ada narasi yang memojokkan, menyindir, atau mencari kesalahan pihak lain. Narasi saling menyalahkan hanya akan memperpanjang luka, menguras energi sosial, dan merugikan seluruh masyarakat nagari.
Siapa pun Wali Nagari terpilih, dia adalah pemimpin bagi seluruh warga nagari bukan hanya bagi kelompok pendukungnya semata. Begitu pula bagi para calon yang belum terpilih, mereka tetaplah tokoh-tokoh terbaik, pemikir, dan bagian tak terpisahkan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan nagari ke depan.
Politik hanyalah proses sesaat untuk mencari titik temu kepemimpinan, tetapi rasa kekeluargaan dan persaudaraan adalah nilai luhur yang abadi. Kemajuan nagari tidak akan pernah bisa diraih oleh satu kelompok saja, melainkan hasil dari gotong royong dan ikhtiar bersama seluruh lapisan masyarakat.
Sesuai dengan falsafah hidup kita “Bulek aia dek pembuluh, bulek kato dek mupakat”, tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa adanya persatuan. Pemimpin yang hebat tidak akan bisa berjalan sendirian tanpa dukungan, kritik yang membangun, serta partisipasi aktif dari seluruh warganya.
Mari kita tinggalkan segala sekat dan ganjalan perasaan yang mungkin sempat muncul di masa Pilwana. Saatnya kita bergandengan tangan, saling melengkapi, dan menyalurkan energi positif untuk mendukung kepemimpinan yang baru.
Mari kita kawal dan bantu pemerintahan nagari agar dapat menjalankan amanah dengan adil, transparan, dan bijaksana. Hanya dengan persatuan, rasa saling menghormati, dan semangat gotong royong, nagari tercinta ini dapat melangkah menjadi nagari yang lebih maju, damai, mandiri, dan sejahtera.
Mari bersatu, saling merangkul, demi kemajuan Nagari kita!
(Pena Keumatan)















