Pelalawan, Riau | Khabarterkini.co Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU wilayah Kabupaten Pelalawan memicu praktik penjualan eceran dengan harga tidak wajar. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah oknum pengecer di sepanjang Jalan Lintas Timur untuk meraup keuntungan besar di tengah kesulitan masyarakat mendapatkan BBM. 04/05/2026
Dari pantauan di lapangan, Pertalite yang biasanya dijual eceran sekitar Rp20.000 per botol ukuran besar (diperkirakan kurang dari 1,5 liter), kini melonjak drastis. Sejumlah pengecer bahkan menjual dengan harga Rp30.000 hingga Rp40.000 per botol.
Pimpinan Umum media online khabarterkini.co, Khoirul Hrp, menyoroti praktik tersebut dan meminta aparat penegak hukum (APH) segera turun tangan. Ia menilai tindakan para pengecer tersebut sebagai bentuk “mencari keuntungan dalam kesempitan” yang merugikan masyarakat.
Dalam salah satu temuan di wilayah Lubuk Terap, Khoirul Hrp mengaku langsung melakukan konfirmasi kepada seorang pengecer yang menjual Pertalite Rp30.000 per botol. Namun, respons yang diterima justru bernada keras.
Pengecer tersebut berdalih bahwa harga tinggi disebabkan sulitnya memperoleh BBM. Ia mengaku suaminya harus mengantre di SPBU hingga begadang demi mendapatkan Pertalite, sehingga merasa wajar menjual dengan harga tinggi.

“Kalau mau beli ya beli, kalau tidak juga tidak masalah. Suami saya ambil minyak di SPBU sampai tidak tidur, jadi mau saya jual Rp30.000 pun masyarakat tetap terbantu,” ujarnya.
Khoirul Hrp mencoba mengingatkan bahwa kondisi kelangkaan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menaikkan harga secara sepihak. Namun, teguran tersebut tidak diterima baik oleh pengecer, bahkan memicu ketegangan.
Situasi sempat memanas ketika pengecer memanggil suaminya dan terjadi adu argumen dengan Khoirul Hrp. Meski sempat memanas, peristiwa tersebut tidak berlanjut setelah suami pengecer kembali masuk ke dalam warung.
Atas kejadian ini, Khoirul Hrp mendesak pihak kepolisian, khususnya Polsek Bunut, untuk segera melakukan pengecekan dan penertiban terhadap para pengecer nakal.
“Kami minta aparat turun langsung ke lapangan untuk menertibkan praktik ini, agar tidak ada lagi yang menjual Pertalite sesuka hati di tengah kondisi sulit seperti sekarang,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, kelangkaan Pertalite di wilayah Pelalawan masih terjadi dan belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab maupun solusi distribusi BBM bersubsidi tersebut.
(tim).















