Pasaman Barat | Khabarterkini.co
Gegara perebutan jabatan Penghulu Adat, akibatnya Jenazah nenek Sisom (96 tahun) diberi sangsi dengan tidak diurus oleh warga pendukung kubu sebelah, Tokoh Adat, serta Tokoh Agama kampung Tanjung Beringin/ ampung Tonga, Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Narat, Sumatera Barat pada sabtu (03/02/2024).
Bermula dari perseteruan antara dua kubu Penghulu Adat yaitu antara inisial S dan E yang sangat meresahkan warga, dimana pendukung penghulu Kubu E mengadakan rapat dan buat keputusan, bahwa siapa yang tidak menanda tangani surat pernyataan mendukung kepada Penghulu E, maka tidak akan diurus jika mati. dan tidak akan diurus jika dia ada acara pesta kawin atau marolek. (Marolek, Bahasa daerah)
Sontak saja serasah betung atau Negeri sembilan geger dibuatnya; Karena sangsinya sangat sadis dan tidak berperi kemanusiaan.
Disitu ada usaha sengaja untuk memutus silaturrahmi antar warga, padahal semua warga kampung Tonga Tanjung Beringin adalah serumpun dan punya hubungan darah.
Namun hanya karena ambisi untuk rebutan Penghulu Adat, semua itu jadi kacau seperti dalam perang dingin antara blok Amerika dan blok Uni Sofyet tempo dulu. Ujar warga ke awak media
Ini sangat tidak manusiawi; Sayapun dipaksa menanda tanganinya, Saya baca surat itu. Ngeri isinya pak. Tapi kami takut tidak akan diurus jika ada kusuknya nanti pak. Terangnya
Maka Kami harap bosa Sontang dan bosa Sungai Aur, serta pihak daulat Parit Batu di Simpang Empat, segera menghentikan surat setan itu.” Ucap seorang tokoh serasah Betung yang enggan disebut namanya.
Anehnya lagi, ada beberapa orang tokoh agama yang ikut menggagas dan menanda tangani surat kesepakatan yang jahat itu. Sambungnya lagi
Ditempat terpisah, beberapa warga yang ditemui media khabarterkini.co menjelaskan bahwa sudah empat bulan suasana kampung Tonga tegang, seperti di zaman 1965. Dimana warga dipecah belah dan dibuat saling curiga oleh oknum tokoh- tokoh kampung yang sedianya mereka bersatu seperti selama ini.
Kepala jorong serasah betung bapak Ahmad Yasi menghimbau agar semua pihak segera menahan diri dan menghentikan residu konflik.
Jangan dibuat rumit; Kembali jalin persatuan apalagi kita dekat pemilu, mari jaga rasa kebangsaan dan persaudaraan. Saya tidak setuju jika ada surat – surat yang aneh seperti itu. ” Tegas pak jorong serius
Pak jorong berjanji akan segera turun tangan bersama pihak- pihak lainnya untuk mencari akar persoalan dan berupaya untuk menyelesaikan konflik adat tersebut.
Untung saja ada warga dan famili nenek Sisom dari luar Kampung Tonga yang datang melayat. Jika tidak, maka jenazah nenek yang malang ini yang menjadi korban konflik dua penghulu ini, tidak ada yang mengurusnya.” Ungkap warga yang mengaku sebagai Ajok Sutan pada awak media.
Sampai berita ini dimuat belum ada pihak Nagari dan pihak Kecamatan Sungai Aur, Pasbar yang memberikan komentar.
Penulis: tim
Editor: Sal Hrp.















