Khabarterkini.co
“Puisi”
Mereka sebut demokrasi,
Tapi kami lihat seikat gila dan sejuta ilusi.
Sangat grazy, grazy, sangat grazy,
Memang gila, gila, gila…
Beri kami demokrasi,
Bukan hanya tafsir dan versi.
Demokrasi itu martabat, kawan,
Mana?
Demokrasi itu kedaulatan rakyat, kawan,
Mana?
Demokrasi itu bebas berbicara, kawan,
Lalu kenapa banyak yang kalian bungkam?
Tidak…
Kalian cuma jual isu demokrasi,
Kalian hanya gadaikan politik atas nama.
Tapi isinya tetap kapitalis ular,
Semua dikuasai oleh kaum kaya,
Rakyat hanya kebagian kue sengsara.
Jika rakyat maju mengkritisi,
Kalian sebut dia makar.
Jika rakyat berani menggugat,
Kalian sebut dia pemberontak.
Tapi kenapa,
Pemberontak sebenarnya kalian sebut kelompok bersenjata?
Apa itu tidak gila?
Jika demokrasi, warga mestinya sejahtera,
Mana?
Namun sekarang,
Siapa sejahtera, siapa punya tanah berjuta hektar?
Siapa mereka?
Siapa kuasai uang dan bank bagai gurita?
Siapa kuasai partai dan koalisi sakti itu?
Siapa?
Siapa mereka yang berkuasa ubah undang-undang pamungkas?
Siapa?
Bukankah itu gila?
Tentang orang gila di rumah sakit jiwa,
Dia tidak begitu berbahaya.
Tapi kalian yang gila,
Telah lancang atasnama demokrasi dan negara,
Itulah petaka merusak bangsa.
Wong cilik seperti kami,
Sekarang lelah,
Apapun seakan tak percaya,
Tiap hari melihat perilaku gila,
Dari mereka, para bandit jadi penguasa.
Kami mengerti sekarang,
Ini bukan demokrasi,
Tapi sudah pandemi demograzy.
Oleh: Dr. Zawil Huda
Editor: red





