Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Artikel Puisi

Dibalut Kabut Pemilu Oleh : Dr, Zawil Huda

698
×

Dibalut Kabut Pemilu Oleh : Dr, Zawil Huda

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Khabarterkini.co

PUISI

Advertisement
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Hei, kamu
Jangan merasa berjasa padaku
Karena Kami telah beli suaramu
Tapi asalnya juga dari uangmu
Namun kamu tidak tahu

Salah kamu sendiri
Kenapa percaya dengan kami
Sekarang pergilah,
jauh, jauh…
Jangan berbisik lagi padaku
Apalagi berkata dengan suara

Pergilah dari hadapanku
Karena aku bukanlah wakilmu
Dan lidahku,
bukanlah penyambung lidahmu

Pergilah kamu, rakyatku..
Oh sori, kamu bukan rakyatku
Tapi kamu hanya tanggaku

Adapun suaramu,
Yang dulu itu
Yang pernah mencoblosku
Itu telah aku sukati
Dengan gantang lapuk bergerigi
dan dengan harga murah tak berarti

Pergilah kau jauh,
Karena Aku bukanlah wakilmu
Kamu hanya perlu bagiku
Jika datang pesta yang itu,
Musim Pemilu.

Adapun untuk sekarang ini
Rasakan saja kenyataan hidupmu
Yang selalu akan bertambah pilu
Dari waktu ke waktu

Adapun mengenai ceritamu
Tentang nasib tanah dan kekayaan alammu itu
Telah kami jual pada sianu
Untuk memperkaya isi saku
Saku aku, bukan saku kamu.

Agar kau tahu,
Aku hanyalah wakil dari diriku
Dan wakil konco- koncoku
Kamu bukan aku
Dan aku tidak kamu
Ha ha haa haaaa… Hu

Bodoh.. Bodoh.. Bodoh sekali kau dan kamu

Duh, keceplosan mulutku
Terbongkar rahasiaku

Tapi tidak,
aku tidak bermaksud mengatakan itu

Namun itulah sesungguhnya pandanganku pada kamu
Yang telah lama kusimpan dalam hatiku

Jujur ya, Kami kadang juga heran padamu,
kenapa terus saja kamu mau
Kami tipu,
pada setiap pemilu ?
Hanya dengan selusin janji ini itu

Dasar memang kau
bodoh tak pernah berpikir maju

Sekarang Pergilah…
Jauh dariku..
Jangan coba coba mengganggu
Karena aku pandai main kartu

Adapun tentang aspirasimu,
Itu Aku tak tahu
Dan aku tidak akan mau tahu
Karena kami sudah terlatih,
untuk pura pura tidak tahu

Pergilah kau,
jangan titipkan aspirasimu lagi padaku

Karena suaraku juga,
tidak didengar oleh ketua partaiku

Sejujurnya,
Aku juga tertipu
Tapi aku tidak lagi malu
Karena rakyat awam yang bodoh itu
Masih saja menghormatiku
Tidak seperti kamu

Pergilah jauh dariku, pergi, pergi…..

Tapi….Nanti dulu
tunggu kau

Lima tahun lagi kami akan datang kepadamu
Dan kami telah tahu,
Bahwa kamu tetap saja akan mau
untuk kami tipu.

Karena memang itulah program rahasia kami
Untuk membuatmu miskin selalu

Agar tetap kau bisa ditipu
Pada setiap pemilu

Penulis: Dr, Zawil Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *