Pasaman Barat | Khabarterkini.co – Aksi solidaritas masyarakat kembali menjadi sorotan setelah musibah tanah longsor yang melanda Batang Tinggam, Nagari Sinuruik, Jumat (28/11). Para Niniak Mamak dari Soko Datuak Ruhun bersama warga Kampuang Baru Sungai Janiah Talu, Kecamatan Talamau, bergerak cepat menggalang donasi untuk membantu para korban terdampak.
Gerakan kemanusiaan ini terasa istimewa karena dipelopori langsung oleh para Niniak Mamak (tokoh adat), pemuda, dan masyarakat setempat. Mereka bekerja bahu-membahu menghimpun bantuan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama anak nagari.
Di tempat terpisah, Niniak Mamak Kampuang Baru, Dasra Satria, S.H., Datuak Ruhun, menegaskan bahwa aksi ini merupakan implementasi nyata nilai adat yang menjunjung tinggi persaudaraan.
“Ini adalah panggilan hati dan tanggung jawab kita sebagai pemangku adat. Dalam ajaran kita, jika satu dirundung malang, yang lain ikut merasakan. Kami bersama seluruh jajaran dan warga, dari anak muda hingga orang tua, bahu-membahu mengumpulkan bantuan terbaik untuk saudara-saudara kita yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Donasi, Adrizal Pegawai Ruhun, menyampaikan bahwa bantuan yang berhasil dikumpulkan telah diwujudkan dalam bentuk sembako, seperti beras, minyak goreng, sarden, dan mi instan.
“Hari ini kami sudah mengantarkan langsung bantuan sembako ke lokasi. Alhamdulillah kedatangan kami disambut baik oleh warga terdampak. Semoga bantuan ini bisa meringankan kebutuhan mereka,” katanya pada Selasa (09/12/2025).
Sejak posko donasi dibuka, antusiasme warga sangat tinggi. Berbagai lapisan masyarakat ikut menyisihkan rezeki sesuai kemampuan mereka. Semua bantuan yang terkumpul kemudian dibelanjakan untuk kebutuhan mendesak para korban.
Aksi kolaboratif antara Niniak Mamak dan warga ini tidak hanya membantu meringankan beban korban longsor, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal serta nilai-nilai adat dapat menjadi fondasi kuat dalam memperkuat solidaritas sosial di tengah bencana.
(Pena Keumatan)
Editor: red















