Pasaman Barat | Khabarterkini.co
Tiga anak yatim yang tinggal di Jorong Sudirman Nagari Muaro Kiawai Kecamatan Gunung Tuleh mengalami kesulitan biaya sekolah dan terancam putus sekolah karena tidak mampu.
Ayahnya sudah meninggal dunia, saat ini ketiga yatim ini tinggal bersama ibunya Darlina (43), yang bekerja sehari-hari sebagai serabutan dirumah orang, kadang kerja kadang tidak, dan penghasilannya hanya cukup untuk membiayai kebutuhan makan untuk anak-anaknya saja.
Darlina mempunyai empat orang anak, tiga masih sekolah dan satu balita, saat ini Ia kesulitan untuk memenuhi keperluan pendidikan putra putrinya bahkan dua putranya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) sering tidak bawa uang jajan ke sekolah, begitu pula putrinya kelas 9 MTs, sejak masuk semester 2 sudah menunggak membayar uang asrama.
“Apalah daya saya, ayah anak anak sudah tidak ada, sekarang saya yang menggantikan sebagai tulang punggung keluarga, saya harus bekerja di rumah orang mencuci pakaian dan kadang juga memasak dengan upah pas pasan”. Keluhnya 14/10/2024.
“Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja susah apalagi untuk kebutuhan sekolah terasa berat bagi saya memenuhinya”lanjutnya
Pihak pesantren dimana tempat anaknya bersekolah sebenarnya sudah memberikan keringanan sampai 50%, sehingga biaya asrama (uang makan) yang harusnya dibayar Rp 700.000 setiap bulan, kepada anaknya hanya dikenakan Rp 350.000/bulan, namun apalah daya Darlina untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dia sudah kesulitan.
Menurut pengakuan Darlina setiap bulan dia ada dapat bantuan beras, namun untuk bantuan PKH, dan bantuan tunai lainnya belum pernah janda empat anak ini terima, begitu juga almarhum suaminya juga tidak ada meninggalkan harta warisan buat anak-anaknya.
Darlina sangat berharap bantuan dan Atensi dari Pemerintah Daerah (Pemda) Pasaman Barat dan para dermawan agar tunggakan putrinya di pesantren dapat dilunasi, dan kedua putranya yang masih SD bisa belajar lebih semangat dalam menggapai cita-citanya.
(Rifki)















