Sanana Malut | Khabarterkini.id. HMI cabang sanana meng apresiasi Seminar Habar sua yang di adakan oleh Dinas Pendidikan yang di berending oleh panitia Festifal Tanjung Waka (FTW) dengan tema Habar Sua Madu Coklat dan masyarakat Sula. Seminar tersebut cukup eksotik karena terjadi tukar menukar pemikiran, rujukan dan bandingan pemekiran mengenai sosial ekonomi dan budaya masyarakat Sula yang kemudian akan menjadi muatan catatan bagi kami dan juga buat Pemerintahan.
Pantauan media Khabarterkini.id sepanjang seminar berjalan di acara festival Tanjung Waka pada Selasa 29/3/22 kami dari HMI cabang Sanana lebih terfokusnya kepada pembahasan mengenai identitas masyarakat Sula dan menurut hemat kami dari HMI cabang Sanana buat Pemerintahan Kabupaten Sula.
Rani Umalekhoa kabid Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) kepada wartawan menyampaikan. Setidaknya Hasil seminar tersebut tidak hanya sebatas dalam ruang serimonial, tetapi pembahasan yang menuai problem (masalah) dari seminar tersebut. harus menjadi catatan buat pemerintahan Kabupaten Sula untuk di atasi terutama mengenai bahasa daerah Sula, adat istiadat, Kebaya Sula, Sejarah Sula harus tertata rapi, di kembangkan dan kemudian di asumsikan kepada generasi Sula melalui lembaga pendidikan yang di sisip dalam kurikulum satuan pendidikan, karena regulasi mengenai kurikulum memberi ruang dalam bentuk 20% kepada masing-masing otonom untuk menyusun kurikulum pembelejaran sesuai dengan kondisi dan situasi otonom tersebut. Kata Rani
Terlepas dari itu Benteng De Verwaching harus di berdayakan dan harus di jadikan tempat musium untuk menyimpan dan melestarikan serta ruang informasi mengenai budaya-budaya Sula dalam bentuk materil maupun nonmateril agar budaya Sula tetap terkenang juga melekat pada anak putra-putri Sula seiring berjalannya waktu karena kami HMI Cabang Sanana melihat bahwa budaya Sula belum di akomudir dengan rapi dan ternaskakan walaupun PERDA mengenai Bahasa sula telah terbit, tetapi sejauh ini belum ada aktualisasi di lapangan.
Iktiarnya jangan sampai budaya Sula hilang terkikis oleh perkembangan global yang laju pesat.
Reporter. Tim Perwil Indonesia Timur dan Tengah
Editor :arhp.















