Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Memulihkan Marwah Pendidik: Ketika Ruang Guru Kehilangan Rasa Hormat

328
×

Memulihkan Marwah Pendidik: Ketika Ruang Guru Kehilangan Rasa Hormat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Khabarterkini.co – ​Dunia pendidikan adalah pilar peradaban. Namun, bagaimana jadinya jika di balik pintu ruang guru, rasa hormat antar sesama pendidik mulai terkikis? Fenomena hilangnya sikap saling menghargai seperti saling menjatuhkan di depan atasan, mengabaikan ide rekan sejawat, atau membicarakan keburukan rekan di belakang adalah “racun” yang perlahan mematikan kualitas sekolah.

Siswa tidak hanya belajar dari apa yang kita tulis di papan tulis, tapi dari bagaimana kita berinteraksi. Jika guru tidak saling menghargai, kita kehilangan otoritas moral untuk mengajarkan karakter dan nilai kesopanan kepada murid.

Advertisement
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Pendidikan adalah kerja tim. Saat rasa hormat hilang, komunikasi tersumbat. Akibatnya, program sekolah terhambat dan inovasi sulit lahir karena setiap orang sibuk melindungi ego masing-masing.

Lingkungan kerja yang toksik meningkatkan stres. Guru yang merasa tidak dihargai akan kehilangan motivasi, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan kualitas pengajaran di kelas.

​Jika kita berada dalam situasi ini, berikut adalah sikap yang bisa kita pilih sebagai pendidik yang profesional:

​Pilih Profesionalisme di Atas Sentimen Pribadi: Kita tidak harus menyukai semua orang secara pribadi, tetapi kita wajib menghargai peran profesional mereka. Tetaplah santun dan objektif dalam urusan pekerjaan.

​Berhenti Menjadi Bagian dari Masalah: Jangan ikut dalam arus gosip atau faksi-faksi yang memecah belah. Jadilah sosok yang netral dan mendinginkan suasana.

​Komunikasi Asertif: Jika ada ketidaksenangan, sampaikan secara langsung dengan cara yang baik (tabayyun), bukan melalui sindiran di media sosial atau forum tidak resmi.

​Mengingat Kembali Visi Bersama: Kita semua ada di sini untuk satu tujuan: Mencerdaskan anak bangsa. Ego pribadi tidak boleh lebih besar dari masa depan murid-murid kita.

​”Seorang guru yang baik tidak hanya mengajar dengan otak, tapi dengan hati. Dan hati yang baik tidak akan punya ruang untuk merendahkan sesama rekan seperjuangan.”

​Menjaga harmoni di sekolah memang tidak mudah, namun sangat mungkin dilakukan jika kita mau memulai dari diri sendiri.

(Pena Keumatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *