Pasaman | Khabarterkini.co
Jembatan penghubung yang menjadi akses vital antara Nagari Lanai, Sinonangon, dan Babatang Kundur di Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, ambruk pada Jumat, 1 Agustus 2025. Peristiwa ini menyebabkan aktivitas warga lumpuh total karena jembatan tersebut merupakan jalur utama penghubung antar-kampung.
Tim Khabarterkini.co yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Senin, 4 Agustus 2025 pukul 11.00 WIB, mendapati kondisi jembatan dalam keadaan rusak parah, dengan sisa bantalan kayu yang ditemukan hanyut sekitar 200 meter dari lokasi utama. Berdasarkan pengamatan, kayu penyangga dan bantalan jembatan terlihat rapuh dan sudah tidak layak pakai.
Salah seorang tokoh masyarakat Lanai, berinisial BS, mengungkapkan bahwa kondisi jembatan memang sudah lama mengkhawatirkan.
“Kami masyarakat sangat prihatin atas kejadian ini. Bantalan jembatan ini sudah lebih dari enam tahun tidak diganti dan terlihat rapuh. Bahkan, pernah dilakukan pergantian alas bantalan, namun hanya dipaku ulang pada kayu yang sama. Ini sangat riskan, karena kayu yang sudah tua bisa pecah dan tak mampu menahan beban kendaraan,” ujarnya.
BS juga menanggapi sejumlah opini liar yang menyebutkan bahwa robohnya jembatan ini disengaja oleh pihak tertentu.
“Itu tuduhan yang tidak berdasar. Janganlah kita menyebar rumor yang dapat memecah belah keharmonisan masyarakat. Ini murni akibat kelalaian dalam perawatan dan usia jembatan yang sudah tua,” tegasnya.
Pemerintah dan DPRD Turun Tangan
Menanggapi kejadian tersebut, pihak pemerintah daerah menyatakan keprihatinannya. Salah satu anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Khairuddin Simanjuntak, didampingi Kapolsek Dua Koto, AKP Antoni Hasibuan, langsung turun ke lokasi untuk meninjau kondisi jembatan.
Khairuddin menyampaikan bahwa pemerintah akan segera mencari solusi dan menargetkan pembangunan jembatan pengganti secepat mungkin.
“Kami sudah mengoordinasikan dengan pemerintah kabupaten agar segera dilakukan pembangunan kembali. Ini menyangkut hajat hidup banyak warga,” ucap Khairuddin di lokasi.
Ajakan Menjaga Kondusivitas
Pemerintah daerah melalui pernyataan tertulis mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Pemerintah juga berharap semua pihak menahan diri dan fokus pada solusi, bukan pada tudingan yang dapat menimbulkan perpecahan.
“Jangan kita mencari masalah dalam masalah. Marilah kita bersatu mencari solusi atas musibah ini,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Catatan: Alam Bisa Lebih Kuat dari Teknologi
Sebagai penutup, redaksi mencatat bahwa kerusakan infrastruktur bisa terjadi kapan saja, bahkan pada bangunan yang bernilai triliunan sekalipun. Ketika alam berkehendak, tak ada teknologi yang mampu menahan. Maka, kewaspadaan dan perawatan berkala adalah kunci untuk mencegah bencana serupa.
Penulis: Koperwil Sumbar – Tanjung
Editor: Sal Hrp















