Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita Ke Agamaan

Mereka Mengamputasi Islam

556
×

Mereka Mengamputasi Islam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Khabarterkini.co

Musuh berkeinginan agar Islam hanya terbatas pada praktik ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, zikir, dan haji. Hanya sampai di situ. Mereka menginginkan Islam tak memiliki kekuasaan, tidak terlibat dalam politik, tak bersenjata, tidak sehat, tidak cerdas, dan tidak kaya.

Tujuan ini sesuai dengan keinginan barat yang sekuler, juga diinginkan oleh kaum fasis dan komunis. Mereka ingin agar pemerintahan, ekonomi, keuangan, serta militer sepenuhnya dikuasai oleh kelompok yang mereka sebut sebagai ‘tripel A’: asing, aseng, dan asong.

Advertisement
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Amputasi terhadap Islam sebagai sebuah kesatuan yang utuh dan lengkap sangatlah intens. Mereka menyerang melalui berbagai tuduhan dan narasi negatif seperti politik identitas, Islam fundamentalis, Islam radikal, teroris Islam, primordial, dan sebutan buruk lainnya.

Semua stigma dan label negatif itu hanya datang dari pihak yang melawan Islam, atau minimalnya dari orang-orang yang kurang paham tentang Islam itu sendiri.

Sejak abad pertengahan, islam yang awalnya utuh, bulat dan lengkap, telah coba diamputasi oleh barat yang diwakili sekularisme dengan berbagai cara dan propaganda.

Dimana sekularisme artinya ialah pemisahan antara agama dengan negara. Untuk agama hanya urusan pribadi di rumahmu. Namun jika sudah keluar dari pintu rumahmu maka itu mutlak wilayah negara.

Sikap ekstrim Barat itu dimulai dari kejengkelan mereka terhadap oknum agamawan gereja yang menindas rakyat atas nama agama. Padahal, tujuan sebenarnya dari kaum agamawan tersebut adalah harta dan kekuasaan. Kolaborasi antara raja dan rohaniawan telah menjadi momok tirani yang menyedot warga negara.

Tiada kata lain untuk perilaku itu selain harus dihentikan dengan dibuat paham baru bernama sekularisme. Nah, Itulah cikal bakal lahirnya ide sekuler.

Berbeda dengan Islam. Islam tidak bisa dipisahkan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Ia haruslah padu, holistik, dan komprehensif.

Contoh paling jelas adalah dari pola hidup Nabi dan sahabatnya di awal Islam, di mana Islam dilindungi oleh berdirinya negara Islam di Madinah.

Meskipun pemeluk agama lain tetap menjadi warga negara Madinah, mereka harus patuh pada regulasi Islam.

Nabi bukan hanya ahli ibadah, tapi juga presiden, panglima perang, ahli ekonomi, ahli pendidikan, lihai menata kesehatan, ahli mengelola keuangan negara, ahli budaya, dan lain-lain.

Kesempurnaan Nabi yang memiliki banyak talenta tersebut menciptakan banyak kejutan dalam sejarah, termasuk piagam Madinah, traktat konstitusi pertama dalam sejarah dunia. Ujungnya, tercapai sebuah kemakmuran, keamanan, dan keadilan bagi semua warga negara madinah.

Di masa itu, Islam sempurna, tidak terpecah-belah, tidak diamputasi. Islam pada masa itu meliputi hukum, ekonomi, keuangan, politik, senjata, militer, negara, diplomasi, pendidikan, kesehatan, budaya, seni, dan tradisi. Tak ada ruang hidup manusia yang tidak diisi oleh Islam.

Jika Islam hanya berfokus pada ibadah, seperti yang diinginkan Barat, tanpa aspek politik, maka ibadah itu akan punah saat politik dikuasai oleh mereka yang anti-Islam dan melarang ibadah.

Ibarat singa, mestilah disebut singa jika dia terdiri dari kepala, leher, badan, kaki, ekor, gigi taring, dan kuku. Jika satu saja tidak ada, maka singa itu akan lemah tidak berdaya.

Bagaimana mungkin orang takut jika seekor singa itu tanpa kuku, tanpa gigi dan tanpa taring?

Singa yang menggigit orang tanpa gigi, bukannya orang kesakitan dibuatnya. Tapi orang malah ketawa karena kegelian. Begitulah islam jika tanpa militer dan tanpa senjata.

Bagaimana mungkin singa akan disegani jika dia tidak punya kaki? Bagaimana mungkin singa bisa hidup tanpa kepala?

Maka Islam hanya akan berwibawa dan dihormati seperti warga dunia lainnya jika memiliki keunggulan dalam politik, ekonomi, militer, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Jadi, miskin dan menderitanya kaum muslimin di banyak wilayah dunia akhir-akhir ini, adalah karena keberhasilan musuh dalam memotong-motong tubuh islam, yang terdiri dari berbagai aspek – aspek diatas tadi.

Siapa yang mampu melindungi agamamu jika bukan dirimu sendiri yang memiliki kekuatan militer dan kuasa politik serta ekonomi?

Apakah islam harus selalu tergantung untuk melindungkan dirinya kepada kuasa politik dan militer agama lain? Tidak, Jika begitu; maka dia akan dihina dan dilemahkan.

Jangan pernah mau diamputasi, Karena kekuatan islam berada pada utuhnya berbagai dimensi tadi dalam dirinya. Jika dipotong- potong, maka pastilah dia akan jadi lemah dan terjajah.

Bukankah mayoritas muslimin dunia sekarang terjajah? Berfikirlah wahai ummat pilihan akhir zaman.

Oleh. Dr. Zawil Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *